Travelling Saat Hamil: Why Not?

Pregnant woman on beach holding parasol
Hamil merupakan salah satu pengalaman yang membahagiakan bagi seorang wanita. Bagaimana tidak? Mengetahui adanya sebuah kehidupan hadir dalam tubuh kita merupakan sesuatu yang ajaib dan saya tidak bisa berhenti memandangi perut saya yang semakin membuncit dari hari ke hari dengan perasaan bahagia. Namun sebagai seorang pecinta jalan-jalan, salah satu hal yang langsung terbesit dalam benak saya ketika saya dinyatakan ‘positif’ adalah ‘apakah saya masih bisa dan boleh travelling?’ Apalagi waktu itu saya sudah memegang tiket honeymoon ke Gili Islands, sayang sekali apabila tidak digunakan.

Berbagai situs, buku dan juga tanya sana-sini termasuk ke dokter, nyatanya tidak ada kok orang yang melarang ibu hamil travelling. Ada beberapa teman yang memang benar-benar menghindari bepergian baik karena alasan kesehatan maupun kepercayaan, namun apabila dokter menyatakan kita sehat then why not?

Akhirnya berbekal kepercayaan diri saya memutuskan travelling ke Gili dalam usia kehamilan 5 minggu saja. Beberapa orang bilang saya nakal karena seharusnya saya menunggu setelah usia kehamilan menginjak 3 bulan untuk jalan-jalan jauh, namun saya memegang teguh apa kata dokter kandungan saya waktu itu: “what makes you happy will make your baby’s healthy”. Prinsip ini masih saya bawa hingga kehamilan menginjak 7 bulan, ketika saya babymoon dengan suami ke Singapore-Malaysia. Tentunya saya pergi dengan kesadaran sebagai ibu hamil yang tentunya harus punya beberapa persiapan khusus karena tubuh kita mulai bereaksi terhadap janin yang harus disikapi secara tersendiri. Here are some tips from me:

1. Safety

Tentunya keamanan adalah hal yang utama bagi mom-to-be-traveller, apabila Anda menempuh perjalan darat pastikan bahwa tiap 3-4 jam sekali Anda meluruskan kaki untuk memperlancar peredaran darah serta mampir ke toilet selama perjalanan. Perjalanan laut sedikit lebih berisiko karena kita tidak bisa memprediksi gelombang, pastikan saja bahwa perjalanan tidak terlalu lama sehingga tidak ada resiko yang terjadi di atas kapal. Tentunya kita tidak mau juga melahirkan di atas kapal tanpa ada pertolongan. Untuk perjalanan udara, biasanya tiap maskapai punya kebijakan tersendiri, namun rata-rata ibu hamil usia di bawah 27 minggu hanya diwajibkan mengisi pregnancy form, antara 28-34 minggu wajib membawa surat dokter dan diatas 35 minggu sudah dilarang naik pesawat sama sekali. Oiya, perjalanan total di atas 10 jam juga tidak disarankan karena takutnya akan membuat kita capek. But, I’ve already did more than 12 hours driving from Jakarta to Jogja and still healthy ;p

2. Pakaian

Pakailah pakaian yang membuat Anda nyaman. Titik. Nggak ada manfaatnya juga menyakiti diri sendiri selama travelling dengan high heels khan? So, pilih baju/terusan/kaos yang longgar, dingin dan menyerap keringat karena selama kehamilan tubuh ibu akan secara otomatis memproduksi keringat berlebih. Oiya, jangan lupa membawa underwear yang lebih banyak ya supaya bisa leluasa berganti saat kegerahan.

Untuk bawahan bisa menggunakan legging atau celana yang longgar sehingga mempermudah pergerakan dan tidak menekan rahim.

Sepatu & sendal juga merupakan salah satu komponen penting karena kaki yang mulai membengkak membuat kita tidak nyaman berjalan. Pilihlah sepatu/sendal yang berbantalan empuk dan tidak sempit karena bisa menghambat peredaran darah. Biasanya ukuran kaki ibu hamil akan naik 1 ukuran daripada sebelumnya.

3. Makanan

Jangan sampai kita kelaparan selama di perjalanan, oleh karena itu saya selalu menyiapkan minimal 1 botol air putih, 1 batang cokelat atau 1 kotak kecil crackers. Hal ini sangat membantu apabila saya tiba-tiba kelaparan di tengah jalan. Biasanya untuk perjalanan yang cukup lama atau menyita tenaga, saya menyiapkan 1 bungkus roti. Salah satu contoh adalah ketika saya mengikuti snorkelling trip di Gili selama hampir 5 jam di laut, saya membawa roti untuk mengganjal perut apabila saya kelaparan setelah naik dari laut. Selain itu, saya rasa Anda sudah tahu bahwa ibu hamil wajib makan makanan sehat & bergizi, cukup protein dan vitamin bagi pertumbuhan janin.

Beberapa larangan dari dokter biasanya untuk mengurangi kopi, soda, beberapa ikan yang tinggi kadar merkuri seperti tuna dan makarel, etc. Pada dasarnya selama hamil saya doyan makan apa saja, termasuk sesekali nakal minum kopi dan soda. Lagi, kata dokter saya “asal tidak berlebihan tidak mengapa” jadi saya cuek saja..

4. Obat-obatan

Tentunya obat dan vitamin dari dokter merupakan barang yang wajib kita bawa supaya tetap fit selama travelling. Biasanya saya juga membawa susu sebagai perbekalan untuk menambah energi. Minyak kayu putih juga merupakan barang wajib bagi saya yang doyan masuk angin.

5. Objek wisata

Saya penyuka pantai, sehingga biasanya saya memilih tempat-tempat yang indah dan eksotis untuk liburan. Hanya saja ternyata memang tidak semua kegiatan diperbolehkan bagi ibu hamil, misalnya diving karena ditakutkan tekanan air yang terlalu tinggi bisa mengurangi asupan oksigen ke janin, atau kegiatan outdoor yang terlalu berbahaya misalnya bungee jumping, ATV, rafting, etc. karena hentakan dari aktivitas tersebut terlalu keras bagi janin. Berenang, snorkelling, bersepeda merupakan pilihan aman bagi Anda pecinta outdoor activity.

Sebagai pecinta objek alam, waktu hamil saya mendadak ‘ngidam’ ingin pergi ke Universal Studios di Singapore. Saya pikir walaupun saya tidak bisa naik cyclone, saya masih diperbolehkan naik ke wahana yang relatif aman seperti arung jeram mini di arena Jurrasic atau 4D movie Transformer. Namun kenyataannya 99% wahana melarang ibu hamil untuk naik. Gagal sudah keinginan saya untuk ber-adrenalin sedikit selama di sana dan hanya bisa bengong menunggu suami yang bolak-balik naik wahana. Nah, bagi Anda yang ingin bepergian ke objek tertentu, pastikan sebelumnya apakah Anda bisa menikmatinya secara keseluruhan atau tidak, jangan sampai Anda harus menunggu di luar karena dilarang masuk.

 

ham1

 

Salah satu hal yang wajib diingat oleh ibu hamil adalah untuk tidak memaksakan diri di luar batas kemampuannya karena memang secara hormonal sudah berubah dan faktanya kita cenderung menjadi rentan. Apabila memang sudah haus, minumlah. Apabila lapar, makanlah. Dan apabila sudah capek, istirahatlah. Hanya kita sendiri yang bisa mengukur seberapa kuat tubuh kita dan tidak ada manfaatnya memaksakan diri. Tentunya kita tetap ingin bersenang-senang tanpa dihinggapi ketakutan tiba-tiba menemukan flek darah setelahnya. Oleh karena itu, bersenang-senanglah secara cukup dan tidak berlebihan.

Salah satu hal yang menyenangkan ketika travelling selama hamil adalah Anda mendapat cukup banyak perhatian dari suami dan juga orang-orang disekitar Anda. Suami akan lebih perhatian dengan selalu menanyakan sudah capek atau belum, sudah lapar atau ingin kemana setelah ini. Dia secara otomatis akan mengikuti keinginan kita yang dibanjiri oleh hormon ini. Orang-orang juga akan menghormati Anda sebagai ibu hamil, misalnya saat naik MRT di Singapore biasanya akan ada orang yang memberikan kursinya pada Anda, mempersilahkan Anda jalan terlebih dahulu bahkan membuat Anda tidak mengantri seperti yang lain saat memesan makanan. Pregnancy is special privillege that we have, so use it!

Nah, tidak perlu ragu lagi untuk travelling bukan?

https://inaratriyana.wordpress.com/…/travelling-saat-hamil…/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*